Kabar Terkini – Aksi protes menentang kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin marak. Para demonstran berkumpul di luar Gedung Capitol dan Gedung putih, juga di Bandara Internasional Dulles, Washington DC untuk memberikan dukungan kepada para imigran dan warga asing yang baru datang ke AS.
Unjuk rasa yang sama juga terjadi di kota-kota besar AS lainnya karena publik marah dengan perintah eksekutif Trump yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim masuk ke AS. Mereka juga menginginkan ditiadakan program penampungan pengungsi. Tujuh negara tersebut yaitu Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Saif Rahman (38) merupakan salah satu warga negara AS kelahiran Iran dan menetap di Virginia yang baru saja terbang dari Istanbul, Turki, melalui Frankfurt ke Bandara Dulles juga ikut rasakan efeknya. Dia menceritakan bagaimana dua agen perbatasan AS menunggu penumpang yang akan menuruni pesawat ketika baru mendarat.
Terdapat 16 orang, termasuk Rahman, yang dipanggil secara khusus untuk melakukan pemeriksaan tambahan. Rahman juga berhasil melalui pemeriksaan tambahan itu dengan cepat, tapi dia sangat kecewa dengan kebijakan baru Trump. “Saya mengharapkan kita bisa melalui masa-masa sulit tersebut sambil tetap menjaga nilai-nilai kita sebagai sebuah negara,” tutur Rahman seperti dikutip AFP, Senin (30/01/2017).

Presiden Trump yang mengeluarkan perintah eksekutif melarang masuknya para pengungsi ke AS untuk 120 hari ke depan. Trump juga melarang pengungsi dari Suriah dengan batas waktu yang belum ditentukan dan menghentikan sementara pembuatan visa untuk warga dari tujuh negara itu untuk 90 hari ke depan.
